[] [ ]readmore

Senin, 16 Januari 2012

Strategic Systems and Reorganization


12.1 Strategic Information System
Strategic Information Systems (SISs) atau Sistem Informasi yang strategis adalah sistem yang menunjang dalam pembentukan strategi bersaing dari suatu organisasi. SIS memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan secara signifikan terhadap proses pelaksanaan bisnis. Peran-peran Teknologi Informasi terhadap sistem yang strategis adalah :
  • Teknologi Infromasi menciptakan aplikasi yang menyediakan keuntungan strategis secara langsung untuk organisasi. Contoh : Federal Express merupakan perusahaan pertama dalam dunia industri yang menggunakan teknologi informasi untuk menelusuri lokasi dari setia paket pengiriman barang di dalam sistemnya.
  • Teknologi Infromasi mendukung perubahan yang strategis seperti reengineering.
  • Teknologi Informasi menyediakan inovasi yang berhubungan dengan teknologi atau bertindak sebagai enabler dari inovasi.
  • Teknologi Infromasi menyediakan Competitive Intelligence dengan mengumpulkan dan menganalisis informasi mengenai inovasi, pasar, pesaingpesaing, dan perubahan lingkungan.

12.1.1 Competitive Intelligence
Aktivitas-aktivitas dari Competitive Intelligence diantaranya adalah mengumpulkan informasi mengenai para pesaing, informasi mengenai pasar, teknologi dan tindakan-tindakan pemerintah. Competitive Intelligence mengarahkan kinerja bisnis dengan meningkatkan penegtahuan pasar dan menaikkan kualitas dari perencanaan strategis (strategic planning). Competitive Intelligence dapat ditingkatkan oleh Teknologi Informasi termasuk Intelligent Agents. Internet memegang peranan penting dalam mendukung Competitive Intelligence. Dengan menggunakan tools internet, perusahaan dalam mengimplementasikan strategi searching untuk mengumpulkan Competitive Intelligence dengan mudah, cepat,dan relatif tidak mahal.

12.2 Porter’s Competitive Forces Model
Persaingan menjadi hal yang utama dalam keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan. Salah satu framework yang cukup dikenal untuk melakukan analisis terhadap daya saing adalah Porter’s Competitive Forces model. Pada Porter’s Model, terdapat lima kekuatan (forces) utama yang dapat membahayakan posisi suatu perusahaan pada industri. Kelima kekuatan utama tersebut adalah :
  • Ancaman dari pesaing baru.
  • Kekuatan penawaran (bargaining power) dari supplier.
  • Kekuatan penawaran (bargaining power) dari pelanggan (customer).
  • Ancaman dari produk atau layanan pengganti.
  • Persaingan diantara perusahaan-perusahaan dalam dunia industri.
Tujuan dari identifikasi terhadap kekuatan-kekuatan (forces) bersaing di atas adalah untuk memungkinkan organisasi untuk membuat strategi yang bertujuan membangun posisi yang menguntungkan dan dapat dipertahankan terhadap lima kekuatan (forces) tersebut. Adapun strategi-strategi sebagi respon terhadap kekuatan bersaing diatas adalah :
1. Cost Leadership Strategy : menghasilkan produk dan atau layanan dengan
biaya yang paling rendah dalam industri.
2. Differentiation Strategy : menjadi unik dalam dunia industri, misalnya dengan
menghasilkan suatu produk dan atau layanan dengan kualitas yang tinggi dan
harga bersaing.
3. Focus Strategy : memilih ruang lingkup pasar yang sempit, dan mencapai
strategi cost leadership atau differentiation pada ruang lingkup tersebut.
4. Growth Strategy : meningkatkan market share, mendapatkan pelanggan
yang lebih banyak atau menjual lebih banyak produk dengan menggunakan
perdagangan elektronik (electronic commerce) untuk memperkuat
perusahaan dan meningkatkan keuntungan dalam jangka waktu panjang.
5. Alliances Strategy : bekerja sama dengan rekan-rekan bisnis. Dengan fasilitas
electronic data interchange, groupware, ekstranet, strategi ini memungkinkan
perusahaan untuk konsentrasi pada bisnis utama dan menyediakan peluan
untuk bertumbuh.
6. Innovation Strategy : membuat produk dan layanan baru, fitur-fitur baru
pada produk dan layanan yang telah ada, dan cara baru untuk memproduksi
atau menjual produk dan layanan tersebut.
7. Internal Efficiency Strategy : meningkatkan pelaksanaan proses bisnis seperti
peningkatan kepuasan pelanggan, kualitas dan produktivitas, mengurangi
waktu pemasaran dan lain sebagainya. Selain itu, meningkatkan proses
pengambilan keputusan dan manajemen aktivitas, dapat meningkatkan
efisiensi.
8. Customer-Oriented Strategy : Konsentrasi untuk membuat pelanggan senang
dengan menyadari bahwa pelanggan adala raja dan ratu. Kontribusi Teknologi
Informais dalam hal ini adalah meningkatkan layanan terhadap pelanggan,
misalnya dengan fasilitas e-mail atau katalog komputer.

12.2.1 Penggunaan Forces Model
Dalam menggunakan Forces model, terdapat empat langkah yang terlibat, yaitu:
1. Mendaftarkan players dalam setiap Competitive Force, misalnya berbelanja
melalui internet dapat menjadi pengganti dari pergi berbelanja ke toko.
2. Hubungkan penentu utama (major determinants) untuk setiap force. Misalnya
untuk berbelanja secara elektronik dapat diperiksa biaya pembeli,
keuntungan dari berbelanja secara elektronik, dan lain sebagainya.
3. Menemukan cara bagaimana perusahaan mengatasi forces berdasarkan
player dan penentu (determinants).
4. Cari teknologi informasi yang mendukung, misalnya teknologi untuk
mengatur pembeli yang banyak, atau penggunaan basis data yang besar dan
lain sebagainya.

12.2.2 Peranan Teknologi Informasi pada Competitive Forces
Berikut ini akan diuraikan beberapa dukungan Teknologi Informasi berdasarkan
implikasi bisnis pada setiap Competitive Forces :
Ancaman dari pesaing baru.
  • Mengurangi harga : produk atau layanan yang berbeda-beda.
  • Basis baru untuk persaingan : mengawasi jalur distribusi (distribution channels), membagi-bagi pasar (segmenting market).
Kekuatan penawaran (bargaining power) dari supplier.
  • Meningkatkan harga : implementasikan supplier Sourcing system.
  • Mengurangi kualitas penyediaan barang atau layanan : memperluaspengawasan kualitas.
Kekuatan penawaran (bargaining power) dari pelanggan (customer).
  • Memaksa harga turun : produk atau layanan yang berbeda-beda dan meningkatkan kinerja.
  • Mendorong persaingan : memfasilitasi pembeli dengan pemilihan produk.
Ancaman dari produk atau layanan pengganti.
  • Membatasi pasar yang berpotensi dan keuntungan : menggunakan strategi differentiation.
Persaingan diantara perusahaan-perusahaan dalam dunia industri.
  • Kompetisi harga : meningkatkan harga, kinerja.
  • Kebutuhan membangun produk dan layan baru : mendefinisikan ulang produk dan layanan.
  • Distribusi dan layanan : mendefinisikan ulang pembagian pasar.
  • Dibutuhkan loyalitas pelanggan : mendekati konsumen.

12.3 Business Process Reengineering (BPR)
Salah satu pendekatan untuk mengingkatkan efektivitas suatu organisasi adalah Business Process Reengineering (BPR). BPR merupakan aktivitas yang menggunakan berbagai macam jenis input untuk menciptakan output kepada pelanggan. Pada BPR, suatu organisasi berpikir secara mendasar dan merancang ulan gsecara radikal proses bisnis perusahaan atau organisasi tersebut untuk mencapai peningkatan yang hebat dalam ukuran kinerja dari sisi kualitas, biaya kecepatan dan laaynan.

12.3.1 Prinsip-Prinsip BPR
Beberap prinsip-prinsip pada Busines Process Reenginering adalah :
Beberapa pekerjaan dikombinasikan menjadi satu Pegawai membuat keputusan (empowerment of employees). Pengambilan keputusan menjadi bagain dari pekerjaan. Langkah dalam proses bisnis dilakukan dengan urutan yang alami dan beberapa pekerjaan dilaksanakan secara bersamaan. Proses untuk menghasilkan atau memproduksi barang yang sama atau menyediakan layanan yang sama dapat disusun sehingga hanya sedikit variasi barang yang dapat dilakukan kustomisasi.
by Facebook Comment

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar